Oleh: Dr. H. Suaib Djafar, M.Si

(Sekretaris FKPA & Budayawan Kaili Sulawesi Tengah)

​GRAHAMERDEKA.COM. PALU – (12/8/2026) Terbukanya rute penerbangan langsung Guangzhou–Bandara Mutiara SIS Aljufri Palu adalah sebuah lompatan sejarah. Ini bukan sekedar penambahan rute konektivitas udara, melainkan sebuah pintu gerbang strategis yang membuka peluang ekonomi, perdagangan, pariwisata, investasi, dan pertukaran budaya antara Sulawesi Tengah dengan pasar internasional.

​Momentum ini adalah tantangan sekaligus peluang. Kita harus menjawabnya dengan pertanyaan sederhana yang berakar pada kearifan lokal kita:

​“Nuapa Rakenita Hilau?”  Produk apa yang kita bawa ke sana?

“Nuapa Rakavata?”  Apa yang kita dapatkan dari sana?

​Pertanyaan ini bukan hanya retorika, melainkan instrumen refleksi agar Sulawesi Tengah tidak hanya menjadi daerah tujuan pasar, tetapi mampu bertransformasi menjadi daerah penghasil produk bernilai tambah yang kompetitif di pasar global.

​Sulawesi Tengah dianugerahi kekayaan luar biasa yang dapat kita rangkum dalam pilar CAN: Culture, Agriculture, dan Natural.

​Culture adalah kekayaan budaya kita: bahasa, adat, seni, kerajinan, kuliner, tenun, tradisi, dan nilai luhur kearifan lokal. Agriculture adalah kekuatan pertanian dan perkebunan kita: kakao, kelapa, kopi, cengkeh, hortikultura, dan perikanan. Sedangkan Natural adalah kekayaan alam yang melimpah: laut, pesisir, gugusan pulau, destinasi wisata, hingga sumber daya alam lainnya.

​CAN bukanlah sekedar potensi yang didiamkan. CAN harus diubah menjadi produk, jasa, pengalaman, dan nilai tambah ekonomi nyata.

​Pendekatan O2H: Unto, Dota, dan Rara

​Semangat “We Can Do It  Kami Bisa Berbuat” merupakan keyakinan bahwa masyarakat Sulawesi Tengah memiliki kapasitas untuk mengolah kekayaan sumber daya menjadi kekuatan ekonomi. Untuk itu, saya menawarkan pendekatan O2H (Otak, Otot, dan Hati) yang merujuk pada nilai-nilai budaya Kaili:

  1. ​Unto (Otak): Menggunakan kecerdasan, pengetahuan, kreativitas, dan inovasi. Otak adalah anugerah Allah SWT yang harus kita gunakan untuk merancang dan mendesain produk agar memiliki daya saing dan kualitas premium.
  2. ​Dota (Otot): Kecerdasan harus dibarengi dengan kemauan untuk bekerja. “Ne Mabuto” (jangan malas). Bekerja dengan sungguh-sungguh, disiplin, ikhlas, penuh tanggung jawab, jujur, dan amanah adalah harga mati.
  3. ​Rara (Hati): Setiap usaha harus dikendalikan dengan hati yang bersih. Bekerja bukan hanya mengejar keuntungan materi, tetapi membangun keberkahan. Nilai Nosimpoasi (saling menghargai) dan Nosipeili (peduli terhadap sesama) harus menjadi fondasi dalam setiap aktivitas ekonomi kita.

​Penerbangan langsung Guangzhou–Palu harus menjadi titik balik perubahan pola pikir kita: dari “Apa yang kita punya?” menjadi “Apa yang dapat kita hasilkan?”

​Bahan mentah tidak boleh berhenti sebagai komoditas murah. Kakao harus diolah menjadi cokelat premium, hasil perkebunan dikembangkan menjadi produk olahan bernilai tinggi, kekayaan laut menjadi produk pangan berkualitas, dan budaya dikemas menjadi ekonomi kreatif serta cenderamata yang memiliki cerita (storynomics).

​Sebaliknya, “Nuapa Rakavata?” harus kita maknai sebagai upaya menyerap pengetahuan, teknologi, jaringan pasar, investasi, dan inovasi yang dapat memperkuat kapasitas masyarakat kita secara berkelanjutan.

​Mosangu Morambanga Mombangu Ngata

​Inilah saatnya kita bergerak dalam semangat “Mosangu Morambanga Mombangu Ngata”  bersama-sama membangun daerah.

​Pemerintah, dunia usaha, masyarakat adat, pelaku UMKM, petani, nelayan, perajin, akademisi, generasi muda, hingga diaspora harus melebur menjadi satu ekosistem ekonomi baru. Dengan sinergi yang kuat, rute penerbangan ini akan menjadi landasan pacu bagi kemajuan Sulawesi Tengah di panggung dunia. Kita bisa, karena kita memiliki segalanya untuk memulai.

Pewarta : Faisal