GRAHAMERDEKA.COM. PALU – Peringatan Haul ke-58 ulama besar Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri, atau yang akrab disapa Guru Tua, menjadi momentum penting bagi kebangkitan pendidikan di Sulawesi Tengah. Di hadapan ribuan jamaah yang memadati Kompleks Alkhairaat, Rabu (1/4-2026), Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid menyerukan transformasi pendidikan melalui gagasan Wajib Belajar 13 Tahun.
Dalam sambutannya, Anwar Hafid menegaskan bahwa kecintaan kepada Guru Tua harus diwujudkan dalam langkah nyata, yakni melanjutkan estafet perjuangan pendidikan yang telah diletakkan fondasinya oleh Sang Ulama. Gubernur mengusulkan integrasi Madrasah Diniyah Awaliyah ke dalam sistem pendidikan formal melalui regulasi daerah.
”Tanda cinta kita bukan hanya hadir di haul atau memasang foto, tapi melanjutkan perjuangan beliau. Jika wajib belajar saat ini hanya 12 tahun, maka amanah Guru Tua belum sepenuhnya terakomodasi. Kita perjuangkan wajib belajar 13 tahun agar pendidikan diniyah menjadi bagian tak terpisahkan,” tegas Anwar Hafid.
Mengusung tema “Meneguhkan Spirit Keteladanan Guru Tua dalam Bingkai Ilmu dan Akhlak”, acara ini juga dihadiri oleh Ketua Utama Alkhairaat, Alwi bin Saggaf bin Muhammad Al-Jufri. Dalam tausiyahnya, ia mengenang betapa seluruh hidup Guru Tua diwakafkan untuk umat, melintasi medan sulit di Maluku hingga Kalimantan demi menyebarkan ilmu.
Senada dengan hal tersebut, Gubernur Anwar Hafid menyoroti pentingnya meningkatkan kesejahteraan para guru Madrasah Diniyah yang selama ini mengabdi dengan honor minim. Ia berkomitmen untuk merumuskan kebijakan yang lebih berpihak pada para pahlawan tanpa tanda jasa tersebut.
Selain aspek edukasi, Gubernur juga memaparkan rencana strategis untuk mempercantik kawasan Alkhairaat. Bekerja sama dengan Universitas Tadulako, pemerintah provinsi berencana melakukan penataan kawasan agar lebih representatif dan nyaman bagi para jamaah yang hadir setiap tahunnya.
Peringatan Haul ke-58 ini menjadi magnet bagi tokoh-tokoh penting tanah air. Tampak hadir Menteri Agama RI Nasaruddin Umar, Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, Ketua KPU RI Mochammad Afifuddin, serta jajaran Forkopimda Sulawesi Tengah. Kehadiran para tokoh nasional ini menegaskan betapa besarnya pengaruh pemikiran Guru Tua terhadap peradaban bangsa, terutama dalam menyambut visi Indonesia Emas 2045.
”Guru Tua sudah membuat roadmap yang jelas. Pendidikan adalah satu-satunya jalan untuk mengubah nasib bangsa,” pungkas Anwar Hafid menutup sambutannya.
Pewarta : Faisal







