GRAHAMERDEKA.COM. PALU – Suasana Halaman Pogombo, Kantor Gubernur Sulawesi Tengah, tampak penuh khidmat pada Selasa pagi (13/10/2026). Sebanyak 422 Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah resmi diambil sumpah dan janjinya oleh Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, yang didampingi Wakil Gubernur dr. Reny Lamadjido.

​Namun, pelantikan kali ini bukan sekadar seremoni serah terima SK semata. Di hadapan ratusan aparatur muda tersebut, Anwar Hafid menyampaikan pesan tajam nan menggugah terkait fondasi karier birokrasi: dari soal kerja keras dari bawah, sistem meritokrasi, komitmen mengharamkan jual beli jabatan, hingga gaya hidup sederhana.

​Memotivasi para PNS muda, Anwar Hafid membagikan rekam jejak perjalanan kariernya di dunia birokrasi yang merangkak dari bawah. Sebelum menduduki kursi kepemimpinan daerah, ia mengaku pernah melakoni pekerjaan-pekerjaan teknis dan sederhana.

​“Sebelum mencapai jabatan eselon II, saya pernah membuat amplop, mengetik pakai mesin ketik manual, sampai mengantarkan surat. Semakin susah kita di awal, semakin terbuka peluang kita untuk sukses di masa yang akan datang,” tutur Anwar.

​Ia menegaskan bahwa perjalanan karier seorang ASN tidak ada yang serba instan. Kesulitan di awal karier harus ditempa menjadi modal kematangan, bukan alasan untuk menyerah.

​“Kalau hari ini kami duduk di sini, suatu saat nanti kalianlah yang akan menggantikan kami,” ujarnya menyuntikkan semangat.

​Di tengah era reformasi birokrasi, Gubernur menekankan pentingnya pergeseran paradigma dari penguasa menjadi pelayan masyarakat. Pengembangan karier ASN di Pemprov Sulteng dipastikan wajib berbasis pada meritokrasi—penempatan jabatan berpatokan murni pada kompetensi, integritas, dan kinerja nyata.

​“ASN yang hebat adalah ASN yang terangkat karena meritokrasi, karena kemampuan dan kehebatannya dalam bekerja, bukan karena kedekatan atau hubungan keluarga,” tegasnya.

​Anwar Hafid juga mewanti-wanti seluruh PNS agar tak sekali-kali tergiur tawaran promosi berbayar oleh oknum mana pun. Pemprov Sulteng, tegasnya, berkomitmen bersih dari praktik jual beli jabatan.

​Mengenai loyalitas pegawai, Gubernur memberikan catatan tebal. Menurutnya, loyalitas tidak boleh disalahartikan sebagai kepatuhan tanpa pikir panjang terhadap perintah pimpinan yang menabrak aturan.

​“Orang yang loyal itu disiplin, bekerja tanpa mengenal waktu, dan tidak memilih-milih pekerjaan. Ketika pemimpin membutuhkan, dia selalu siap. Tapi kalau disuruh melakukan kesalahan, itu bukan loyalitas, melainkan mencelakakan,” lugasnya.

​Pesan lain yang tak kalah menyentil adalah imbauan untuk menjaga pola hidup sederhana. Menurut Anwar, masalah finansial pegawai sering kali bukan disebabkan oleh minimnya penghasilan, melainkan tingginya gaya hidup yang tidak proporsional.

​“Kalau gaji kita hanya sekian, cukupkanlah dan syukuri. Yang sering membuat manusia susah itu gaya hidupnya,” ucap Gubernur mengingatkan agar para pegawai baru tak terburu-buru mengejar kemewahan sebelum mapan secara finansial.

​Menutup arahannya, Anwar Hafid meminta para PNS yang baru dilantik untuk bersabar dan bersinergi di tengah penataan dan tantangan fiskal daerah. Ia optimistis kondisi keuangan daerah akan kian membaik dalam 1–2 tahun ke depan, yang nantinya berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan pegawai.

​“Yakin dan percayalah, tidak ada yang tahu nasib manusia. Saya yakin di antara kalian semua akan ada yang sukses. Teruslah bekerja, bersabar, dan tunjukkan kemampuan terbaik,” pungkasnya seraya mengucapkan selamat bertugas kepada seluruh PNS yang baru dilantik.

Pewarta : Faisal