GRAHAMERDEKA.COM. PALU – Jejak ulama besar Ulumul Qur’an dan pahlawan nasional, Syekh Yusuf Abu Al-Mahasin Taj Al-Khalwati Al-Makassari, terus mengalir deras hingga era modern. Garis nasab mulia dan silsilah sanad dzikir Tarekat Khalwatiyah tersebut mengakar kuat pada sosok ulama dan tokoh masyarakat Sulawesi Tengah, Dr. Buya H. Muhammad J. Wartabone, M.HI., M.M.

​Keberadaan silsilah genetik ini menegaskan kedudukan Dr. Buya H. Muhammad J. Wartabone sebagai penerus keilmuan spiritual, dakwah Islam, serta simbol perjuangan ulama yang menyambungkan histori keagamaan dari Jazirah Sulawesi Selatan, Banten, Gorontalo, hingga Sulawesi Tengah.

​Keterkaitan garis keturunan ini berawal dari pernikahan Syekh Yusuf Al-Makassari (Lahir di Gowa, 3 Juli 1626 – Wafat di Cape Town, 23 Mei 1699) dengan Kare Kontu, putri dari Sultan Agung Tirtayasa (Kesultanan Banten).

​Putri mereka, We Gumittiri, dipersunting oleh La Pareppa To Sappewali (Raja Bone XIX), yang merupakan putra dari La Patau Matanna Tikka Sultan Adzimuddin (Raja Bone XVI) bersama I Maryama Karaeng Patukanga (putri Gowa, cucu Sultan Hasanuddin). Dari simpul inilah bertaut dua kekuatan besar, yakni spirit dakwah pahlawan sufi dan trah kebangsawanan Nusantara.

​Berikut rantai garis keturunan (nasab) yang tersambung lurus hingga Dr. Buya H. Muhammad J. Wartabone:

  1. ​Syekh Yusuf Abu Al-Mahasin Taj Al-Khalwati Al-Makassari \rightarrow berputri We Gumittiri (menikah dengan La Pareppa To Sappewali / Raja Bone XIX).
  2. ​La Massellomo Ponggawa Bone (Putra La Pareppa & We Gumittiri) \rightarrow menikah dengan Arung Tajong.
  3. ​La Mappapenning Ponggawa Bone Matinroe Ri Tasi’na (Pulumoduyo III di Suwawa) \rightarrow menikah dengan I Luli (Putri Suwawa Gorontalo).
  4. ​Raja Wartabone (Arutta Bone / Petta Bone / La Bunnue) \rightarrow menikah dengan Balo/Mitu.
  5. ​La Iboerahima Bin Raja Wartabone (Madika Bone, Wafat di Dolo Potoya 1897) \rightarrow menikah dengan Roneama (wanita asal Palu-Kaili).
  6. ​Latjonco (Lahir di Palu, Wafat di Bobo, Dolo-Sigi) \rightarrow menikah dengan Renjoine Binti La Tapande (asal Dolo-Sigi).
  7. ​Lamacca (Lahir 1902 di Dolo Potoya, Wafat di Bobo, Dolo-Sigi) \rightarrow menikah dengan Yamalera Binti Sumbangudu (asal Petobo-Palu).
  8. ​Buya Jarudin Wartabone (Om Lopu Guru Ngaji) (Lahir 9 Desember 1925 – Wafat 8 Oktober 2009) \rightarrow menikah dengan Hj. Lise Sura (asal Kulawi, Sigi).
  9. ​Dr. Buya H. Muhammad J. Wartabone, M.HI., M.M. (Lahir di Salua, Kec. Kulawi, Kab. Sigi, Sulawesi Tengah).

​Warisan luhur spiritual yang dibawa oleh pendahulunya tidak berhenti pada catatan sejarah semata. Buya Jarudin Wartabone (ayahanda Dr. Buya Muhammad) dikenal luas oleh masyarakat Tanah Kaili sebagai Om Lopu Guru Ngaji, figur pendidik Islam yang mendedikasikan hidupnya untuk membimbing umat.

​Teladan spiritual dan nilai-nilai keilmuan Tarekat Khalwatiyah tersebut kini diteruskan secara penuh oleh Dr. Buya H. Muhammad J. Wartabone, M.HI., M.M. Melalui latar belakang pendidikan keislaman yang mendalam serta kepemimpinan akademis dan kemasyarakatan, beliau memadukan sanad keilmuan spiritual ulama klasik dengan kepemimpinan modern.

​“Pertautan nasab ini bukan sekadar kebanggaan silsilah keluarga, melainkan amanah moral dan tanggung jawab keummatan untuk terus menyebarkan Islam yang ramah, memperkuat kebangsaan, serta merawat sanad keilmuan dan dzikir para wali dan pejuang Nusantara,” ungkap salah satu tokoh agama Sulawesi Tengah.

​Hadirnya kepemimpinan Dr. Buya H. Muhammad J. Wartabone, M.HI., M.M. menjadi bukti nyata keberlanjutan mata rantai sejarah—menghubungkan kejayaan dakwah Syekh Yusuf Al-Makassari di masa lalu dengan syiar Islam yang menyejukkan di Bumi Tadulako saat ini.

Editor : Faisal