GRAHAMERDEKA.COM. PALU – Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Palu sukses menggelar diskusi publik bertajuk “DIALOG NUSANTARA” dalam rangka memperingati Hari Anti Korupsi Sedunia (HARKODIA) 2025. Diskusi yang digelar di Kampus UNISA Palu ( Warkop Fekon) jumat (12 Desember 2025) mengangkat tema krusial: “Peran Mahasiswa Dalam Mengawal Lingkungan Yang Tertib, Adil, Dan Jujur.”
Acara ini menghadirkan empat narasumber utama dari berbagai latar belakang, yaitu Laode Abd Sofyan, S.H., M.H. (Kasi Penerangan Hukum Kejati Sulteng), Akp. Deni Hendrawan, S.H., M.H. (Kanit II Tipidkor Polda Sulteng), M. Risky Hidayatullah (Jurnalis Senior/Pemilik ReadNews.id), dan Firdaus Sofitran S.Pd. (Ketua Cabang PMII Kota Palu).
Dalam pengantarnya, Laode Sofyan, S.H., M.H., Kasi Penkum Kejati Sulteng, menekankan bahwa fokus anti korupsi tidak boleh hanya terpaku pada kerugian keuangan negara secara umum, namun harus diperluas ke sektor pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) dan lingkungan hidup.
“Kita juga harus memperhatikan tentang pengelolaan sumber daya alam yang erat kaitannya dengan lingkungan hidup yang kerugiannya lebih besar,” tegas Laode Sofyan.
Ia mencontohkan kasus timah di Bangka Belitung dan maraknya tambang ilegal di Sulawesi Tengah. Menurutnya, praktik pengelolaan lingkungan yang tidak bijak ini menimbulkan dampak kerugian di masa depan, sehingga perlu antisipasi dan kontrol segera dari pemangku kepentingan dan Aparat Penegak Hukum (APH).
Jurnalis senior Kota Palu, M. Risky Hidayatullah, yang baru-baru ini mendapat penghargaan dari Kejati Sulteng, menyoroti peran pers sebagai pilar keempat demokrasi dan fungsi kontrol sosial dalam isu korupsi.
“Betapa banyak tantangan yang dihadapi (media) seperti ancaman, intimidasi, dan hal lainnya dari berbagai pihak,” ujar Risky. Ia menekankan bahwa untuk menjadi kuat, jurnalis tidak hanya butuh tulisan yang tajam tetapi juga ‘Ordal’ (Orang Dalam) atau kemitraan strategis dengan Kejaksaan maupun Kepolisian untuk mengungkap fakta.
Dengan disambut riuh tepuk tangan, Risky mengakhiri sambutannya dengan slogan yang inspiratif: “Kita berkawan tapi beritaku tidak berkawan.”
Sementara itu, Akp. Deni Hendrawan, S.H., M.H. dari Polda Sulteng menyoroti pentingnya integritas bagi penyidik.
“Sebagai penyidik kita harus punya ilmu tentang hukum, skill, dan juga integritas,” ucapnya. Ia mengingatkan para penegak hukum untuk bekerja secara profesional sesuai SOP dan tidak tergoda oleh hal-hal yang dapat mengganggu integritas.
Dalam giat tersebut, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Sesi tanya jawab menjadi hangat ketika mahasiswa menanyakan penanganan dugaan kasus korupsi yang melibatkan pejabat daerah.
Menanggapi hal tersebut, Laode Sofyan menegaskan pentingnya memegang teguh asas praduga tak bersalah. Ia menjelaskan proses penindakan harus sesuai SOP dan wajib memenuhi unsur “mens rea” (niat jahat) serta minimal dua alat bukti yang sah dan berkualitas.
“In criminalibus probationes debent esse luce clariores” Dalam penanganan perkara pidana, Bukti itu harus lebih terang dari cahaya, karena itu menyangkut nasib orang,” ujarnya filosofis. Ia mengutip prinsip hukum: “Lebih baik membebaskan seribu orang yang bersalah daripada menghukum satu orang yang tidak bersalah,” seraya mengingatkan tentang pertanggungjawaban di akhirat.
Diskusi yang cukup alot ini ditutup dengan apresiasi dari mahasiswa atas wejangan dan ilmu hukum yang diberikan, khususnya mengenai pencegahan dan penanganan korupsi. Acara ini diharapkan dapat memacu langkah konkret mahasiswa untuk menciptakan lingkungan yang tertib, adil, dan bersih dari korupsi.

Kegiatan “DIALOG NUSANTARA” diakhiri dengan penyerahan Piagam Penghargaan dari panitia penyelenggara (mahasiswa PMII) kepada seluruh narasumber sebagai bentuk terima kasih atas ilmu dan wawasan yang telah dibagikan. Acara kemudian ditutup dengan sesi foto bersama antara narasumber, panitia, dan perwakilan mahasiswa dari berbagai universitas di Kota Palu yang hadir, mempererat komitmen bersama dalam gerakan anti korupsi.
( Faisal)







