GRAHAMERDEKA.COM. PALU – Memasuki satu tahun masa jabatannya sebagai Gubernur Sulawesi Tengah, kepemimpinan Anwar Hafid menjadi sorotan publik. Mengusung gaya kepemimpinan populis, Anwar dinilai berhasil menerjemahkan janji kampanye menjadi kebijakan nyata yang langsung menyentuh akar rumput, terutama melalui program unggulan “BERANI”.

​Pengamat Politik dari Universitas Tadulako (Untad), Nuralam, mencermati bahwa selama hampir 365 hari ini, arah kebijakan Anwar Hafid sangat konsisten terhadap komitmen politiknya. Meskipun dihadapkan pada tantangan birokrasi dan keterbatasan fiskal daerah, langkah Anwar dinilai taktis dan pro-rakyat.

​Nuralam menyoroti dua pilar utama dari sembilan program BERANI yang paling dirasakan manfaatnya secara masif oleh masyarakat:

​1. BERANI Cerdas. Langkah konkret Anwar dalam membangun kolaborasi lintas sektor pendidikan. Tidak hanya merangkul perguruan tinggi lokal di Sulteng, ia juga berhasil menggandeng institusi elit nasional seperti Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk mendongkrak kualitas SDM daerah.

​2. BERANI Sehat. Sebuah terobosan inklusif yang memungkinkan warga Sulawesi Tengah mengakses layanan kesehatan gratis hanya dengan modal KTP. Kebijakan ini dianggap sebagai bentuk kehadiran negara yang paling nyata dalam menjamin hak dasar warga.

​”Dua program ini, Cerdas dan Sehat, adalah yang paling mencuat di permukaan. Ini menunjukkan fokus Anwar pada pemenuhan hak dasar rakyat di tengah atmosfer politik yang terus bergerak,” ujar Nuralam dalam keterangannya, Kamis (22/01-2026).

​Selain program sosial, Anwar Hafid juga gencar melakukan penataan internal di lingkungan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah. Nuralam menilai, penyusunan komposisi birokrasi yang baru merupakan sinyal kuat bahwa Gubernur sedang membangun tim yang lebih adaptif dan solid.

​”Penyusunan komposisi baru ini menjadi rujukan penting untuk melihat ke mana arah kebijakan Pak Anwar ke depan. Beliau juga aktif membangun jejaring dengan lembaga non-struktural, mencerminkan gaya kepemimpinan yang kolaboratif dan inklusif,” tambah Nuralam.

​Langkah ini dipandang bukan sekadar rotasi jabatan biasa, melainkan strategi untuk memastikan visi pembangunan daerah tetap berkelanjutan dan siap menghadapi tantangan politik maupun ekonomi di masa mendatang.

​Meski menuai apresiasi, tantangan bagi Anwar Hafid ke depan tetap besar. Konsistensi dalam menjaga ritme implementasi program di tengah keterbatasan anggaran daerah akan menjadi ujian sesungguhnya bagi sang pemimpin populis ini.

​”Prosesnya masih berjalan (ongoing process). Namun, dengan fondasi relasi strategis yang telah dibangun, terlihat komitmen kuat untuk tetap berada pada jalur pembangunan yang inklusif,” tutup Nuralam.

(Faisal)