GRAHAMERDEKA.COM. PALU – Perjalanan keilmuan Buya H. Muhammad J. Wartabone merupakan bagian dari ikhtiar untuk menelusuri, menjaga, dan menyambung sanad keilmuan para ulama. Dalam tradisi keilmuan Islam, ilmu tidak hanya diperoleh melalui kitab, tetapi juga diwariskan secara langsung melalui hubungan guru dan murid, dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Karena itu, perjalanan seorang penuntut ilmu tidak dapat dilepaskan dari jejak para guru yang menjadi mata rantai pewarisan ilmu tersebut.

​Dalam perjalanan itu, Buya Muhammad J. Wartabone belajar kepada Syekh Abdullah bin Awadh Abdun. Syekh Abdullah bin Awadh Abdun sendiri menimba ilmu kepada sejumlah ulama besar, di antaranya Al-Habib Idrus bin Salim Al-Jufri (Guru Tua), Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih, Al-Habib Sholeh bin Muhsin Al-Hamid (Habib Sholeh Tanggul), dan As-Sayyid Muhammad bin ‘Alawi Al-Maliki yang kemudian berlanjut kepada para ulama Makkah, di antaranya As-Sayyid ‘Alwy bin ‘Abbas Al-Maliki, As-Sayyid Abbas bin Abdul Aziz Al-Maliki, Asy-Syaikh Abid bin Husain, dan As-Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan. Melalui hubungan guru dan murid inilah Buya MJW mengenal dan melanjutkan tradisi keilmuan yang telah diwariskan oleh para ulama sebelumnya.

​Dari proses pembelajaran tersebut, atas arahan Syekh Abdullah bin Awadh Abdun, Buya MJW juga kemudian rutin belajar kepada Al-Habib Muhammad bin Abdul Qadir Al-Habsyi (Habib Cikampek). Dari beliau, Buya MJW mempelajari berbagai dzikir dan wirid, di antaranya Wirid Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, Wirdul Awliya, serta kaidah-kaidah tasawuf melalui kitab Qawa’id at-Tasawuf karya Imam Zarruq. Dzikir dan wirid yang diterima tersebut juga memiliki mata rantai keilmuan melalui guru Habib Cikampek, yaitu Al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad bin Abdurrahman As-Saqqaf.

​Selain melalui jalur tersebut, perjalanan keilmuan Buya MJW berlanjut kepada Al-Quthb As-Syaikh K.H. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani Al-Banjari (Abah Guru Sekumpul). Dari Abah Guru Sekumpul, jejak keilmuan kemudian membawa pada mata rantai guru-guru beliau, di antaranya KH. Muhammad Syarwani Abdan Al-Banjari (Tuan Guru Bangil) dan Al-Habib Sholeh bin Muhsin Al-Hamid (Habib Sholeh Tanggul). Selanjutnya, melalui jalur KH. Muhammad Syarwani Abdan Al-Banjari, penelusuran sanad keilmuan berlanjut kepada para ulama Makkah, di antaranya As-Sayyid ‘Alwy bin ‘Abbas Al-Maliki, As-Sayyid Abbas bin Abdul Aziz Al-Maliki, Asy-Syaikh Abid bin Husain, dan As-Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan.

​Dari jalur sanad keilmuan Syekh Abdullah bin Awadh Abdun dan jalur keilmuan Al-Quthb As-Syaikh K.H. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani Al-Banjari (Abah Guru Sekumpul), penelusuran mata rantai keilmuan tersebut berlanjut kepada para ulama besar hingga Makkah. Dalam rangkaian tersebut, As-Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan dikenal sebagai salah satu murid As-Sayyid Ahmad bin Muhammad Al-Marzuki Al-Hasani, ulama besar di Makkah yang dikenal sebagai penyusun kitab Aqidatul Awwam. Hubungan guru dan murid tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam penelusuran mata rantai keilmuan ulama Makkah.

​Adapun nasab As-Sayyid Ahmad bin Muhammad Al-Marzuki Al-Hasani sebagaimana tercantum dalam Kitab Nuruzh Zhalam (Syarah Manzhumah Aqidatul Awam) Cetakan Darul Hawi yaitu:

​السيد أحمد بن السيد رمضان بن منصور بن السيد محمد بن شمس الدين محمد بن السيد رئيس بن السيد زين الدين بن ناصب الدين بن ناصر الدين بن محمد بن قاسم بن محمد بن رئيس إبراهيم بن محمد بن سيدي مرزوق الكفافي بن سيدي موسى بن عبد الله المحض بن الإمام حسن المثنى بن الحسن السبط ابن الإمام علي بن أبي طالب كرم الله وجهه

​Sayyid Ahmad bin Sayyid Ramadhan bin Manshur bin Sayyid Muhammad bin Syamsuddin Muhammad bin Sayyid Rais bin Sayyid Zainuddin bin Nashibuddin bin Nashiruddin bin Muhammad bin Qasim bin Muhammad bin Rais Ibrahim bin Muhammad bin Sayyidi Marzuq Al-Kafafi bin Sayyidi Musa bin Abdullah Al-Mahdh bin Imam Hasan Al-Mutsanna bin Al-Hasan As-Sibth bin Imam Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah.

​Rangkaian nasab tersebut berujung kepada Imam Hasan Al-Mutsanna, kemudian Al-Hasan As-Sibth, putra Imam Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah. Dengan demikian, berdasarkan catatan nasab tersebut, nasab As-Sayyid Ahmad Bin Muhammad Al-Marzuki Al-Hasani tersambung kepada Rasulullah ﷺ melalui jalur Sayyidina Hasan bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhuma yang merupakan suami Sayyidah Fatimah Az-Zahra, putri Rasulullah ﷺ.

​Jejak tersebut memperlihatkan bahwa perjalanan Buya Muhammad J. Wartabone tidak sekadar berupa perjalanan belajar kepada para guru, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menelusuri mata rantai sanad keilmuan ulama. Melalui jalur Syekh Abdullah bin Awadh Abdun, Abah Guru Sekumpul, serta para ulama yang menjadi bagian dari mata rantai keilmuan tersebut, ilmu terus diwariskan dari guru kepada murid.

​Pada akhirnya, sanad menjadi pengingat bahwa ilmu memiliki sejarah dan amanah. Menjaga sanad berarti menjaga hubungan dengan para guru, menghormati ilmu yang diwariskan, mengamalkannya, dan meneruskannya kepada generasi berikutnya, sebagai bagian dari ikhtiar menjaga kesinambungan tradisi keilmuan Islam hingga Rasulullah ﷺ.

Editor : Faisal