Foto : Dokumentasi Faisal
GRAHAMERDEKA.COM. SIGI – (31/12-2025) Suasana hangat terpancar di salah satu sudut Desa Potoya, Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi. Mengenakan kaos putih santai dan topi, Kepala Desa Potoya, Samsul Bahri, tampak berbaur dengan warga di area kolam ikan yang menjadi proyek percontohan program ketahanan pangan desa tahun anggaran 2025.
Kehadiran Samsul Bahri di lapangan bukan tanpa alasan. Ia ingin memastikan bahwa alokasi Dana Desa (DD) yang dikucurkan untuk sektor perikanan darat ini berjalan efektif dan tepat sasaran. Program ini merupakan langkah nyata Pemerintah Desa Potoya dalam menerjemahkan instruksi nasional terkait penguatan ketahanan pangan di tingkat desa.
Sambil berbincang akrab dengan pengelola kolam, Kades Samsul Bahri memperhatikan secara detail proses pemberian pakan dan kondisi air kolam. Baginya, keberhasilan program ini sangat bergantung pada pengawasan yang konsisten dan dukungan penuh dari pemerintah desa kepada para pembudidaya.
”Kami hadir di sini untuk memastikan program ketahanan pangan tahun 2025 berjalan sesuai rencana. Dengan kolam ikan ini, kami berupaya agar masyarakat Desa Potoya memiliki akses pangan bergizi yang mudah dan murah, sekaligus meningkatkan ekonomi lokal,” ujar Samsul Bahri di sela-sela kunjungannya.
Pemanfaatan lahan desa menjadi kolam produktif ini diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi baru. Di tengah rimbunnya pohon kelapa dan udara pedesaan yang asri, kolam-kolam ini diproyeksikan mampu memasok kebutuhan ikan segar bagi warga sekitar dan pasar lokal di Kabupaten Sigi.
Strategi yang diterapkan Desa Potoya mencakup beberapa aspek penting:
1. Pemanfaatan Lahan: Mengubah lahan tidur menjadi area produktif.
2. Pemberdayaan Warga: Melibatkan kelompok masyarakat dalam manajemen operasional kolam.
3. Stabilitas Harga: Memastikan stok ikan tetap tersedia sehingga harga di tingkat desa tetap terjangkau.
Melalui kepemimpinan yang aktif dan turun langsung ke lapangan, Samsul Bahri optimis bahwa Desa Potoya dapat menjadi lumbung ikan di Kecamatan Dolo. Langkah ini tidak hanya tentang menyediakan makanan, tetapi tentang membangun kedaulatan pangan yang dimulai dari lingkup terkecil, yaitu desa.
Masyarakat menyambut positif kehadiran sang Kades yang tidak sungkan untuk terjun langsung ke lokasi meskipun dalam balutan pakaian sederhana, mencerminkan kedekatan pemimpin dengan rakyatnya dalam membangun desa yang lebih maju.
(Faisal)







